Karakteristik Batu Candi Borobudur: Panduan Lengkap Andesit Vulkanik untuk Arsitektur Modern
Batu Candi Borobudur adalah andesit vulkanik premium dari Gunung Merapi yang telah teruji ketahanannya selama lebih dari seribu tahun. Artikel ini membahas secara lengkap karakteristik, sifat fisik, komposisi kimia, hingga aplikasi modern sebagai ubin batu lava hitam, lantai batu alam, dan pelapis dinding eksklusif.
📋 Daftar Isi
- Karakteristik Utama Batu Candi Borobudur
- Sifat Fisik Batuan Andesit
- Komposisi Kimia Batu Candi
- Mineralogi Batuan Andesit
- Hubungan dengan Pertumbuhan Lumut
- Hubungan dengan Endapan Garam
- Aplikasi Modern untuk Dinding & Lantai
- Inspirasi Desain dengan Batu Alam
- Kesimpulan
Karakteristik Utama Batu Candi Borobudur
Keunikan Batu Gunung Merapi untuk Candi Borobudur
Karakteristik Batu Merapi sebagai bahan material pembuatan Candi Borobudur merupakan batuan asli lava rock Gunung Berapi yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan batuan alam lainnya. Batu andesit ini berasal dari erupsi Gunung Merapi yang telah membeku dan membentuk batuan beku dengan tekstur khas, yang kini banyak diaplikasikan sebagai ubin batu lava hitam berkualitas premium.
Abstrak: Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO. Batu penyusunnya berasal dari Gunung Merapi dengan karakteristik andesit yang beragam, yang kini menjadi material favorit untuk batu lava hitam berbagai ukuran.

Candi Borobudur tersusun oleh andesit yang jika diteliti secara lebih spesifik memiliki karakteristik yang berbeda-beda, sehingga dapat memiliki tingkat kerusakan dan pelapukan yang berbeda pula. Penentuan karakteristik Batu Candi Borobudur didasarkan pada parameter sifat fisik, komposisi kimia, dan mineralogi batuan.

Batu candi yang berwarna gelap memiliki densitas lebih besar dibandingkan batu candi yang berwarna cerah karena kandungan ferro magnesium yang lebih tinggi. Selain itu, batu candi berwarna gelap mampu menyerap panas lebih besar, menjadikannya ideal untuk lantai batu candi lahar Merapi yang nyaman di area outdoor.

Batu candi yang ditumbuhi lumut memiliki densitas lebih kecil dan porositas lebih besar jika dibandingkan batu candi yang tidak ditumbuhi lumut. Kandungan silika pada batu candi yang ditumbuhi lumut lebih rendah karena proses pelapukan yang terjadi menyebabkan berkurangnya kadar silika pada batu.

Kandungan kalium pada batu candi yang ditumbuhi lumut lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang tidak ditumbuhi lumut, karena kalium merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan lumut.

Batu candi yang mengalami penggaraman memiliki densitas lebih kecil dan porositas lebih besar jika dibandingkan batu candi yang tidak mengalami penggaraman. Kandungan silika pada batu candi yang mengalami penggaraman lebih rendah karena proses penggaraman melarutkan silika dan mengendapkannya di permukaan batu.



Sifat Fisik Batuan Andesit Candi Borobudur
Latar Belakang Geologis
Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui sebagai salah satu warisan budaya dunia. Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800-an Masehi oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra, dan merupakan tempat pemujaan bagi pemeluk agama Buddha.
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Secara astronomis Candi Borobudur terletak pada 7°36’28” lintang selatan dan 110°12’13” bujur timur.
Candi Borobudur tersusun oleh andesit yang memiliki porositas tinggi. Karena porositas tinggi inilah, andesit penyusun Candi Borobudur memiliki kuat tekan yang tergolong rendah jika dibandingkan dengan batuan sejenis (Sampurno, 1969). Material ini kini banyak diolah menjadi ubin batu alam hijau Sukabumi asli dan berbagai produk batu alam berkualitas.

Andesit dipilih sebagai material bangunan karena ketersediaannya yang banyak, mengingat gunung api di Pulau Jawa kebanyakan mengandung magma intermediet dan membeku ketika mencapai puncak, sehingga menghasilkan batuan beku jenis andesit yang kini populer sebagai batu gunung Merapi 3D untuk dinding artistik.

Andesit termasuk dalam batuan beku intermediet dengan kandungan silika 52-66%, memiliki tekstur fenokris (butiran kristal) dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik (halus), dengan komposisi mineral utama plagioklas, mineral aksesori hornblende, biotit, piroksen dan massa dasar dapat berupa mineral felsik (asam, warna cerah) atau mineral mafik (basa, warna gelap).
Batu candi dipilih yang memiliki porositas tinggi karena dengan porositas tinggi maka batuan akan lebih mudah dipahat. Meskipun secara umum penyusun Candi Borobudur merupakan batu yang sejenis (andesit), namun jika dibedakan secara spesifik batu-batu penyusun tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga memiliki tingkat kerusakan dan pelapukan yang berbeda.
Kerusakan dan pelapukan ini banyak sekali macamnya, yang disebabkan oleh faktor penyebab yang berbeda-beda pula. Karena itu, perlu diketahui karakteristik yang lebih spesifik untuk tiap-tiap batu berdasarkan parameter-parameter yang ada.
Menurut Siregar (2011), proses kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada batu penyusun Candi Borobudur dapat dikelompokkan dalam 4 macam, yaitu:
- Kerusakan mekanis – Kerusakan material batuan yang disebabkan oleh gaya-gaya mekanis, seperti pembebanan dan getaran.
- Pelapukan fisik – Pelapukan batuan material yang disebabkan oleh faktor fisik seperti suhu, kelembaban, angin, air hujan, dan penguapan yang menghasilkan gejala seperti pengelupasan dan aus.
- Pelapukan kimia – Pelapukan yang terjadi pada material batuan sebagai akibat dari proses atau reaksi kimiawi seperti penggaraman dan korosi.
- Pelapukan biologis – Pelapukan pada material yang disebabkan oleh kegiatan mikroorganisme seperti pertumbuhan lumut, alga, dan lichen.
Beberapa penelitian tentang batu penyusun Candi Borobudur pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan Leisen, dkk (2012) menerangkan bahwa pola dan tingkat pelapukan pada setiap individu blok batu sangat tergantung pada varietas batunya. Ada perbedaan tingkat pelapukan yang signifikan untuk varietas batu yang berbeda.
Penelitian mengenai karakteristik material di situs dan di laboratorium menunjukkan karakteristik fisik seperti penterapan air sangat berbeda untuk tiap varietas batu yang berbeda. Ariyanto (1993) menerangkan bahwa faktor utama yang menyebabkan terjadinya pengelupasan batu penyusun Candi Borobudur adalah akibat pemuaian dan pengerutan yang berbeda antara mineral-mineral pembentuk batuan dengan endapan garam.
Kondisi Batuan di Lapangan
Candi Borobudur tersusun atas andesit. Namun jika diamati, andesit penyusun Candi Borobudur memiliki beberapa macam karakteristik, misalnya dilihat dari segi warna, pertumbuhan lumut maupun munculnya endapan garam.
Dari hasil pengamatan di lapangan, andesit penyusun Candi Borobudur dapat dikelompokkan menjadi 5 macam warna, yaitu: abu-abu, abu-abu kecokelatan, abu-abu kehitaman, kemerahan dan hitam. Meskipun jika diamati lebih jauh perbedaan warna batuan terlihat secara gradasional, sehingga macam warna batu bisa sangat banyak dan relatif (subjektif).
Pelapukan yang terjadi pada batu Candi Borobudur salah satunya disebabkan oleh tumbuhan tingkat rendah seperti lumut yang tumbuh pada permukaan batu. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan, pertumbuhan lumut pada tiap blok batu tidak sama. Ada blok batu yang banyak ditumbuhi oleh lumut, di sisi lain ada juga blok batu yang bersih dari pertumbuhan lumut.

Hal ini disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor eksternal antara lain adalah keberadaan air yang membuat batuan menjadi lembab maupun intensitas sinar matahari. Sedangkan faktor internal sangat erat kaitannya dengan karakteristik batu itu sendiri, antara lain porositas, daya serap air maupun unsur yang terkandung dalam batu tersebut.
Jenis pelapukan lain yang terjadi pada batu Candi Borobudur adalah pelapukan kimia yang berupa penggaraman. Munculnya penggaraman ini disebabkan oleh unsur yang ada pada batu terlarut oleh air dan keluar melalui pori-pori batu akibat penguapan lalu mengendap di permukaan batu.
Karena itulah banyak faktor yang menyebabkan penggaraman terjadi baik faktor internal maupun eksternal. Faktor eksternal yang bekerja adalah air, karena keberadaan air ini dapat melarutkan unsur yang terkandung pada batu. Selain itu faktor internal juga sangat mempengaruhi terjadinya penggaraman, seperti keberadaan unsur yang dapat terlarut oleh air maupun porositas batuan, karena keberadaan pori-pori pada batuan ini menjadi celah untuk keluarnya hasil pelarutan yang pada akhirnya akan mengendap di permukaan batuan.
Selanjutnya yang dilakukan adalah analisis sifat fisik, komposisi kimia, maupun mineralogi batuan alam candi dari gunung Merapi. Oleh karena analisis yang dilakukan bersifat destruktif, maka sampel andesit diambil dari batu candi yang ada di tempat penyimpanan batu (kondisinya relatif sama dengan di candi/di tempat terbuka) yang terletak di sebelah barat Candi Borobudur, sehingga tidak merusak batu yang ada di candi.
Sampel yang diambil adalah andesit yang terdiri dari 5 macam warna dan andesit yang ditumbuhi lumut maupun yang telah mengalami penggaraman.

Setelah itu dilakukan pengkodean batu:
- BDR 1 : andesit warna abu-abu
- BDR 2 : andesit warna abu-abu kecokelatan
- BDR 3 : andesit warna abu-abu kehitaman
- BDR 4 : andesit warna kemerahan
- BDR 5 : andesit warna hitam
Analisis Sifat Fisik Batuan
Analisis sifat batu yang dilakukan di laboratorium meliputi densitas, berat jenis, porositas, daya serap air, kekerasan dan temperatur.

Hasil analisis sifat batu yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 1. Selanjutnya dilakukan interpretasi hasil analisis untuk membandingkan karakteristik sifat fisik untuk setiap batu.
Tabel 1. Sifat Fisik Batu Penyusun Candi Borobudur
| Parameter | BDR 1 | BDR 2 | BDR 3 | BDR 4 | BDR 5 |
|---|---|---|---|---|---|
| Densitas (gr/cm³) | 2,14 | 2,12 | 2,21 | 2,18 | 2,23 |
| Berat Jenis | 2,67 | 2,63 | 2,70 | 2,68 | 2,71 |
| Porositas (%) | 19,45 | 20,35 | 18,78 | 19,24 | 17,96 |
| Daya serap air (%) | 10,68 | 10,94 | 9,78 | 10,23 | 9,25 |
| Kekerasan (skala Mohs) | 4 – 6 | 4 – 6 | 4 – 6 | 4 – 6 | 4 – 6 |
| Temperatur batu (°C) | 45,2 | 44,7 | 47,1 | 45,9 | 48,6 |
Keterangan: Sampel yang dianalisis dipilih andesit yang paling segar (tidak ditumbuhi lumut/mengalami penggaraman). Nilai setiap parameter sifat fisik didapatkan dari rata-rata beberapa sampel/contoh batu yang berwarna sama. Temperatur batu diukur pada bulan Agustus 2013 jam ± 11.00.
Dari tabel sifat fisik batu penyusun Candi Borobudur (Tabel 1), densitas sampel BDR 5 (hitam) memiliki nilai yang paling tinggi. Berturut-turut yang memiliki nilai densitas dari besar ke kecil yaitu BDR 3 (abu-abu kehitaman), BDR 4 (kemerahan), BDR 1 (abu-abu) dan BDR 2 (abu-abu kecokelatan).
Nilai densitas yang lebih tinggi untuk batu berwarna gelap, sesuai dengan teorinya memiliki kandungan ferro magnesium yang lebih tinggi, sehingga menyebabkan densitasnya juga lebih tinggi. Nilai berat jenis batu candi mengikuti pola yang sama dengan densitasnya, dimana batu yang memiliki berat jenis yang lebih tinggi, densitasnya juga lebih tinggi.
Nilai berat jenis dan densitas ini berbanding terbalik dengan nilai porositas maupun daya serap airnya. Hal ini karena batuan dengan rapat massa yang lebih besar akan memiliki volume pori yang lebih kecil.
Untuk kekerasan batu, nilai yang didapatkan relatif sama yaitu 4 – 6 skala Mohs. Nilai kekerasan 6 skala Mohs didapat pada batuan yang tekstur permukaannya halus (pori-pori batu kecil), sedangkan nilai kekerasan 4 skala Mohs didapat dari andesit yang tekstur permukaannya kasar.
Untuk pengukuran temperatur, andesit dengan warna gelap mampu menyerap panas yang lebih besar dibandingkan dengan andesit berwarna cerah. Hal ini disebabkan andesit berwarna gelap memiliki kandungan ferro magnesium yang lebih tinggi, sehingga kemampuan menyerap dan menyimpan panas juga lebih tinggi. Karakteristik ini membuat batu lava kolam renang sangat nyaman karena tetap sejuk meskipun terkena sinar matahari.
Komposisi Kimia Batuan
Batu penyusun Candi Borobudur yang berjenis andesit tersusun atas komposisi kimia yang terdiri dari unsur-unsur utama yaitu silikat, aluminium, besi, kalsium, magnesium, natrium, dan kalium. Dari hasil analisis kimia batu penyusun Candi Borobudur didapatkan komposisi kimia yang tertera pada Tabel 2.
Hasil analisis komposisi kimia andesit Candi Borobudur menunjukkan bahwa andesit berwarna cerah relatif memiliki kandungan silika lebih tinggi daripada andesit berwarna gelap. Selanjutnya untuk kandungan besi (Fe), andesit berwarna gelap memiliki nilai yang lebih tinggi dari andesit berwarna terang. Hal ini karena kandungan mineral mafik (ferro magnesium silikat) lebih tinggi, sehingga menyebabkan warna yang lebih gelap.
Tabel 2. Komposisi Kimia Batu Penyusun Candi Borobudur
| Parameter | BDR 1 (%) | BDR 2 (%) | BDR 3 (%) | BDR 4 (%) | BDR 5 (%) |
|---|---|---|---|---|---|
| Al₂O₃ | 16,93 | 17,19 | 14,35 | 15,47 | 13,00 |
| CaO | 2,68 | 2,60 | 3,89 | 3,50 | 1,96 |
| FeO | 4,78 | 4,62 | 6,03 | 5,37 | 6,78 |
| Fe₂O₃ | 5,31 | 5,14 | 6,71 | 5,97 | 7,53 |
| MgO | 1,57 | 0,62 | 1,55 | 0,62 | 1,29 |
| Na₂O | 3,81 | 3,50 | 4,13 | 4,02 | 3,29 |
| K₂O | 2,83 | 2,35 | 2,65 | 2,88 | 2,73 |
| SiO₂ | 59,69 | 59,97 | 58,15 | 58,20 | 56,12 |
Keterangan: Sampel yang dianalisis dipilih andesit yang paling segar (tidak ditumbuhi lumut/mengalami penggaraman).
Mineralogi Batuan Andesit
Identifikasi karakteristik batuan dari aspek tekstur dan komposisi mineralogi dilakukan dengan analisis petrografi menggunakan mikroskop polarisasi. Dari analisis petrografi yang dilakukan pada sayatan tipis andesit penyusun Candi Borobudur, terlihat kenampakan yang sama dari segi tekstur dan komposisi mineral.
BDR 1 – Warna abu-abu kecokelatan, tekstur porfiritik, bentuk kristal subhedral-anhedral. Komposisi mineral terdiri dari fenokris plagioklas (25%), piroksen (15%), mineral opak (5%) dan massa dasar plagioklas (35%) dan gelas vulkanik (20%).
BDR 2 – Warna abu-abu kecokelatan, tekstur porfiritik, bentuk kristal subhedral-anhedral. Komposisi mineral terdiri dari fenokris plagioklas (30%), piroksen (15%), mineral opak (5%) dan massa dasar plagioklas (30%) dan gelas vulkanik (20%).
BDR 3 – Warna abu-abu kecokelatan, tekstur porfiritik, bentuk kristal subhedral-anhedral. Komposisi mineral terdiri dari fenokris plagioklas (20%), piroksen (20%), mineral opak (5%) dan massa dasar plagioklas (35%) dan gelas vulkanik (20%).
BDR 4 – Warna abu-abu kecokelatan, tekstur porfiritik, bentuk kristal subhedral-anhedral. Komposisi mineral terdiri dari fenokris plagioklas (25%), piroksen (20%), mineral opak (5%) dan massa dasar plagioklas (30%) dan gelas vulkanik (20%).
BDR 5 – Warna abu-abu kecokelatan, tekstur porfiritik, bentuk kristal subhedral-anhedral. Komposisi mineral terdiri dari fenokris plagioklas (20%), piroksen (20%), mineral opak (5%) dan massa dasar plagioklas (30%) dan gelas vulkanik (25%).
Dari analisis petrografi tersebut menunjukkan bahwa andesit penyusun Candi Borobudur tersusun atas mineral yang sama yaitu plagioklas, piroksen, mineral opak dan gelas vulkanik, yang membedakan hanyalah pada persentase komposisinya saja.
Plagioklas yang ada berjenis andesin. Andesit yang berwarna lebih cerah relatif memiliki kandungan plagioklas lebih tinggi dibandingkan yang berwarna lebih gelap. Sedangkan untuk kandungan piroksen, andesit yang berwarna lebih gelap memiliki komposisi lebih tinggi dibandingkan andesit yang berwarna lebih cerah.
Karakteristik Batu Candi dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Lumut
Batu penyusun Candi Borobudur yang tersusun atas andesit sebagian telah mengalami pelapukan. Faktor yang berpengaruh terhadap pelapukan batu Candi Borobudur terdiri dari dua macam, yaitu faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal yang berpengaruh antara lain keberadaan air, fluktuasi suhu, dan aktifitas organisme. Sedangkan faktor internal yang berpengaruh adalah dari karakteristik batu itu sendiri.
Lumut yang merupakan tumbuhan tingkat rendah menjadi salah satu faktor penyebab pelapukan batu Candi Borobudur. Tumbuhnya lumut pada batu candi, selain disebabkan karena faktor air (kelembaban) juga dipengaruhi oleh karakteristik batu itu sendiri.
Alasan mengapa karakteristik batu menjadi salah satu faktor pertumbuhan lumut ini, disimpulkan dari fakta bahwa tidak semua batu Candi Borobudur ditumbuhi oleh lumut, bahkan ada blok batu yang bersinggungan langsung, sebagian ditumbuhi lumut dan sebagian bersih dari pertumbuhan lumut.
Secara sepintas terlihat bahwa permukaan batu yang ditumbuhi lumut memiliki tekstur yang lebih kasar jika dibandingkan dengan batu yang bersih dari pertumbuhan lumut. Karena itulah diperlukan analisis sifat fisik dan kimia batuan untuk menjelaskan penyebabnya.
Dari analisis sifat fisik yang dilakukan di laboratorium terhadap 3 sampel batu penyusun Candi Borobudur yang ditumbuhi lumut didapatkan hasil seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Sifat Fisik Batu Penyusun Candi Borobudur yang Ditumbuhi Lumut
| Parameter | BDR 6 | BDR 7 | BDR 8 |
|---|---|---|---|
| Densitas (gr/cm³) | 2,02 | 2,07 | 2,05 |
| Porositas (%) | 23,81 | 22,85 | 23,31 |
| Kekerasan (skala Mohs) | + 4 | + 4 | + 4 |
Dari analisis sifat fisik pada Tabel 3 terlihat bahwa batu candi yang ditumbuhi lumut memiliki nilai densitas antara 2,02 – 2,07 gr/cm³. Nilai ini lebih kecil dari nilai densitas batu penyusun Candi Borobudur yang tidak ditumbuhi lumut (Tabel 1).
Pada Tabel 1 mengenai sifat fisik batu penyusun candi Borobudur, nilai densitas batu berkisar antara 2,12 – 2,23 gr/cm³. Hal ini menunjukkan bahwa lumut tumbuh pada batu dengan rapat massa yang relatif lebih kecil.
Hal ini disebabkan batu yang memiliki rapat massa lebih kecil memiliki pori-pori yang lebih besar, sehingga akan dapat menyerap dan menyimpan air lebih besar pula yang mengakibatkan kelembaban batu akan lebih tinggi (menunjang pertumbuhan lumut).
Hal ini juga sesuai dengan nilai porositas batu candi yang ditumbuhi lumut (Tabel 3) yaitu berkisar antara 22,85 – 23,81%, yang lebih tinggi dari porositas batu penyusun Candi Borobudur yang tidak ditumbuhi lumut (Tabel 1) yang berkisar antara 17,96 – 20,85%.
Dari segi kekerasan, batu yang ditumbuhi lumut memiliki kekerasan + 4 skala Mohs (Tabel 3), yang merupakan nilai kekerasan paling rendah dari batu penyusun Candi Borobudur yang tidak ditumbuhi lumut (kekerasan 4 – 6 skala Mohs, tertera pada Tabel 1).
Hal ini dipengaruhi oleh densitas dan porositas batu yang memungkinkan terjadinya pelapukan lebih cepat, sehingga menyebabkan kekerasan batu menjadi rendah. Pelapukan menjadi semakin intensif karena adanya pertumbuhan lumut. Hal ini karena rhizoid lumut menembus ke dalam batuan mengikuti sistem pori-pori yang dapat menyebabkan dinding-dinding di antara pori-pori menjadi pecah (Samidi, 1975).
Selain analisis fisik juga dilakukan analisa kimia untuk mengetahui komposisi kimia batu penyusun Candi Borobudur yang ditumbuhi lumut.
Tabel 4. Komposisi Kimia Batu Penyusun Candi Borobudur yang Ditumbuhi Lumut
| Parameter | BDR 6 | BDR 7 |
|---|---|---|
| Al₂O₃ | 17,82% | 15,41% |
| CaO | 4,56% | 4,04% |
| FeO | 8,19% | 7,21% |
| Fe₂O₃ | 9,11% | 8,02% |
| MgO | 1,71% | 1,76% |
| Na₂O | 4,20% | 3,80% |
| K₂O | 3,63% | 3,51% |
| SiO₂ | 47,36% | 52,47% |
Dari analisis kimia yang dilakukan di laboratorium terhadap 2 sampel batu penyusun Candi Borobudur yang ditumbuhi lumut didapatkan hasil yang tertera pada Tabel 4.
Dari Tabel 4 terlihat bahwa komposisi kimia batu candi yang ditumbuhi lumut memiliki kandungan SiO₂ yang lebih kecil dari batu penyusun Candi Borobudur yang tidak ditumbuhi lumut (Tabel 2).
Dari analisis kimia yang dilakukan pada dua sampel batu candi yang ditumbuhi lumut didapatkan nilai SiO₂ 47,36% dan 52,47%. Nilai tersebut lebih kecil dari nilai SiO₂ pada batu candi yang tidak ditumbuhi lumut (Tabel 2) yang berkisar antara 56,12% – 59,97%.
Rendahnya kandungan SiO₂ pada batu yang ditumbuhi lumut karena proses pelapukan menyebabkan berkurangnya kadar silika pada batu. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Loughnan (1969) bahwa pelapukan memiliki 3 tahapan penting yaitu:
- Hancurnya struktur mineral asal dengan disertai oleh pembebasan silika,
- Terpindahnya beberapa komponen batuan yang lapuk,
- Terbentuknya mineral baru yang stabil pada kondisi lingkungan.
Selain itu dari komposisi kimia batuan terlihat bahwa batu yang ditumbuhi lumut memiliki kandungan kalium lebih tinggi dari batu yang tidak ditumbuhi lumut. Kalium merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan lumut.
Fungsi kalium bagi pertumbuhan lumut antara lain:
- Membentuk dan mengangkut karbohidrat,
- Sebagai katalisator dalam pembentukan protein,
- Menetralkan reaksi dalam sel terutama dari asam organik.
Kalium diserap dalam bentuk ion K⁺. Dari analisis 2 batu yang ditumbuhi lumut, didapat nilai K₂O 3,51% dan 3,63%. Nilai ini lebih tinggi dari kandungan K₂O batu yang tidak ditumbuhi lumut yang berkisar antara 2,35% – 2,88%.
Hal ini menandakan bahwa batu yang memiliki kandungan kalium lebih tinggi relatif lebih mudah ditumbuhi lumut, meskipun masih banyak faktor lain yang berpengaruh dalam pertumbuhan lumut seperti telah diuraikan sebelumnya.
Karakteristik Batu Candi dan Hubungannya dengan Endapan Garam pada Permukaan Batu
Selain pertumbuhan lumut, penyebab pelapukan pada batu penyusun Candi Borobudur yang lain adalah munculnya endapan garam pada permukaan batu.
Akibat pengaruh suhu lingkungan dan penyinaran matahari serta faktor-faktor lain, air yang terakumulasi pada batu akan menguap. Pada proses penguapan air melalui pori-pori batu, air membawa bahan-bahan mineral terlarut ke permukaan batu.
Ketika air menguap, bahan-bahan mineral terlarut akan tertinggal di permukaan batu sehingga dalam jangka waktu tertentu terakumulasi menjadi endapan garam yang tebal (Sudibyo, 2002).
Karakteristik batu yang meliputi sifat fisik dan komposisi kimia batu menjadi faktor penting dalam proses penggaraman, ditunjukkan bahwa tidak semua batu Candi Borobudur mengalami penggaraman. Bahkan ada blok batu yang bersebelahan, sebagian mengalami penggaraman dan sebagian tidak mengalami penggaraman.
Oleh karena itulah sangat penting untuk mengidentifikasi karakteristik batu seperti tingkat porositas maupun unsur yang terkandung dalam batu dan endapan garam.
Dari analisis sifat fisik yang dilakukan terhadap 2 sampel batu candi yang mengalami penggaraman, didapatkan hasil yang tertera pada Tabel 5.
Tabel 5. Sifat Fisik Batu Penyusun Candi Borobudur yang Mengalami Penggaraman
| Parameter | BDR 9 | BDR 10 |
|---|---|---|
| Densitas (gr/cm³) | 2,03 | 2,05 |
| Porositas (%) | 23,15 | 23,36 |
| Kekerasan (skala Mohs) | + 4 | + 4 |
Dari Tabel 5 terlihat bahwa nilai densitas adalah 2,03 dan 2,05 gr/cm³. Nilai ini lebih kecil dari nilai densitas batu penyusun Candi Borobudur yang tidak mengalami penggaraman (Tabel 1).
Pada Tabel 1 mengenai sifat fisik batu penyusun candi Borobudur, diketahui nilai densitas batu berkisar antara 2,12 – 2,23 gr/cm³. Hal ini menunjukkan bahwa endapan garam muncul pada batu yang memiliki rapat massa relatif lebih kecil.
Hal ini karena batuan yang memiliki rapat massa lebih kecil memiliki pori-pori lebih besar, sehingga dapat menyerap dan menyimpan air lebih banyak, kemudian menyebabkan pelarutan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya akan lebih intensif.
Hal ini juga sesuai dengan nilai porositas yang dimiliki yaitu 23,15% dan 23,36% (Tabel 5), yang lebih tinggi dari nilai porositas batu penyusun Candi Borobudur tidak mengalami penggaraman (Tabel 1) yang berkisar antara 17,96 – 20,85%.
Dari segi kekerasan batu yang mengalami penggaraman memiliki kekerasan + 4 skala Mohs. Hal ini dipengaruhi oleh densitas dan porositas batu yang memungkinkan terjadinya pelapukan lebih cepat, sehingga menyebabkan kekerasan batu menjadi rendah.
Nilai kekerasan ini lebih rendah dari kekerasan endapan garam yang ada di permukaannya yang mencapai 5 – 6 skala Mohs.

Tingkat kekerasan endapan garam yang tinggi menjadi salah satu sebab mengapa pada permukaan batu yang mengalami penggaraman tidak ditumbuhi lumut. Lumut hanya tumbuh pada bagian tertentu saja, pada umumnya mengumpul di lubang-lubang alveol dan pori-pori yang tidak tertutup endapan garam.
Tabel 6. Komposisi Kimia Batu Penyusun Candi Borobudur yang Mengalami Penggaraman
| Parameter | BDR 9 |
|---|---|
| Al₂O₃ | 20,55% |
| CaO | 4,15% |
| FeO | 7,73% |
| Fe₂O₃ | 8,60% |
| MgO | 1,55% |
| Na₂O | 4,16% |
| K₂O | 3,03% |
| SiO₂ | 47,34% |
Dari Tabel 6 terlihat bahwa komposisi kimia batu candi yang mengalami penggaraman memiliki kandungan SiO₂ lebih kecil dari batu penyusun Candi Borobudur yang tidak mengalami penggaraman (Tabel 2).
Dari analisis kimia pada sampel batu candi yang mengalami penggaraman didapatkan nilai SiO₂ 47,34%. Nilai ini lebih kecil dari nilai SiO₂ pada batu candi yang tidak mengalami penggaraman (Tabel 2) yang berkisar antara 56,12 – 59,97%.
Rendahnya kandungan SiO₂ pada batu yang mengalami penggaraman disebabkan oleh proses penggaraman yang salah satunya melarutkan SiO₂ dan kemudian mengendap di permukaan batu.
Ini terlihat hasil analisis endapan garam pada permukaan batu Candi Borobudur yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Septiningrum (2007) menganalisis 4 sampel endapan garam yang diambil pada permukaan batu di ke-4 sisi Candi Borobudur. Hasilnya tertera pada Tabel 7.
Tabel 7. Hasil Analisis Endapan Garam pada Permukaan Batu Candi Borobudur (Septiningrum, 2007)
| No. | Parameter | Sampel A (%) | Sampel B (%) | Sampel C (%) | Sampel D (%) | Rata-rata (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kalsium (Ca⁺) | 15,83 | 13,57 | 14,47 | 12,72 | 14,15 |
| 2 | Magnesium (Mg²⁺) | 10,57 | 8,47 | 9,60 | 9,65 | 9,57 |
| 3 | Aluminium (Al³⁺) | 1,42 | 1,66 | 1,83 | 4,27 | 2,30 |
| 4 | Besi (Fe³⁺) | 3,68 | 2,29 | 3,78 | 4,43 | 3,54 |
| 5 | Sulfat (SO₄²⁻) | 2,53 | 2,95 | 1,08 | 2,18 | 2,19 |
| 6 | Klorida (Cl⁻) | 0,41 | 0,43 | 0,27 | 0,40 | 0,38 |
| 7 | Silika (SiO₂) | 38,62 | 37,05 | 38,50 | 36,07 | 37,56 |
| 8 | Karbonat (CO₃²⁻) | 26,94 | 33,57 | 30,47 | 30,29 | 30,32 |
Keterangan: Sampel A: Endapan garam pada dinding sisi timur lantai 1. Sampel B: Endapan garam pada dinding sisi barat lantai 1. Sampel C: Endapan garam pada dinding sisi utara lantai 1. Sampel D: Endapan garam pada dinding sisi selatan lantai 1.
Dari Tabel 7 terlihat bahwa komposisi kimia endapan garam pada permukaan batu Candi Borobudur mayoritas tersusun atas silika, karbonat, kalsium dan magnesium.
Silika (SiO₂) larut dalam air yang terakumulasi pada pori-pori batu membentuk asam silikat (H₄SiO₄). Karena proses penguapan air melalui pori-pori batu, silika akan mengendap di permukaan batu. Reaksinya adalah sebagai berikut:
H₄SiO₄ (aq) → SiO₂ (s) + 2 H₂O
Adapun senyawa karbonat muncul karena unsur yang ada dalam batu mengalami kontak dengan air hujan. Reaksinya adalah sebagai berikut:
CO₂ + H₂O → H₂CO₃ (aq)
CaO (s) + H₂CO₃ (aq) → CaCO₃ (s) + H₂O
MgO (s) + H₂CO₃ (aq) → MgCO₃ (s) + H₂O
Dari reaksi di atas terlihat bahwa kalsium dan magnesium bereaksi dengan H₂CO₃ dan mengalami pelarutan. Selanjutnya, karena proses penguapan air melalui pori-pori batu, garam karbonat akan mengendap di permukaan batu dalam bentuk CaCO₃ dan MgCO₃. Hal ini yang membuat endapan garam pada permukaan batu banyak mengandung karbonat, kalsium, dan magnesium.
Aplikasi Modern untuk Dinding & Lantai
Batu Candi Borobudur sebagai Pelapis Dinding dan Lantai Modern
Batuan candi Borobudur adalah jenis batu alam yang sering digunakan sebagai bahan material untuk pelapis dinding dan lantai dalam desain interior yang modern. Berikut adalah karakteristik batu candi Borobudur sebagai bahan material pelapis dinding dan lantai:
- Warna dan Tekstur: Batu candi Borobudur umumnya memiliki warna coklat keabu-abuan dengan tekstur yang unik, seperti butiran-butiran kecil yang saling menyatu. Warna dan teksturnya memberikan tampilan yang alami dan klasik pada dinding dan lantai.
- Kekuatan dan Ketahanan: Batu candi Borobudur memiliki kekuatan yang baik dan tahan lama, sehingga cocok digunakan sebagai lava stone batu candi hitam yang tahan terhadap tekanan, goresan, dan penggunaan sehari-hari.
- Karakter Sejarah: Penggunaan batu candi Borobudur sebagai bahan material akan memberikan nilai historis dan budaya pada interior ruangan. Batu ini telah digunakan dalam pembangunan Candi Borobudur yang merupakan situs bersejarah dan ikonik di Indonesia.
- Keunikan Setiap Batu: Setiap potongan batu candi Borobudur memiliki pola dan corak yang unik, sehingga setiap dinding dan lantai yang dipasang dengan batu ini akan memiliki tampilan yang berbeda dan orisinil.
- Tahan Air: Batu candi Borobudur umumnya memiliki sifat tahan air, sehingga cocok digunakan untuk pelapis dinding dan lantai, terutama di area dengan tingkat kelembapan tinggi seperti kamar mandi atau dapur.
- Penggunaan di Dalam dan Luar Ruangan: Batu candi Borobudur dapat digunakan baik di dalam maupun di luar ruangan, karena memiliki daya tahan terhadap cuaca dan perubahan suhu. Cocok untuk lantai outdoor batu alam Merapi yang tahan cuaca.
- Kemudahan Perawatan: Batu candi Borobudur cenderung mudah dirawat, dan dapat dibersihkan dengan mudah menggunakan lap basah atau sikat lembut.
Dengan karakteristik yang mencakup kekuatan, keunikan, dan nilai sejarah, batu candi Borobudur menjadi pilihan yang menarik untuk menghadirkan nuansa alami dan estetika klasik dalam desain interior modern. Namun, penting untuk memastikan bahwa pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli dan perawatan yang baik diberikan agar batu ini tetap awet dan indah dalam jangka waktu yang lama.
Inspirasi Desain dengan Batu Alam dari Gunung Merapi
Koleksi Produk Batu Alam Premium
Material batu alam dari kawasan Gunung Merapi menawarkan beragam pilihan untuk berbagai kebutuhan arsitektur dan desain. Berikut adalah beberapa produk unggulan yang dapat menjadi inspirasi bagi proyek Anda:
- Batu Pasir Coklat – Batu pasir dengan warna coklat hangat yang memberikan nuansa klasik dan natural pada dinding dan lantai.
- Batu Alam Finishing Tumbled – Proses tumbling menciptakan tampilan antik dengan tepi bulat yang aman dan estetik.
- Batu Gunung Merapi 3D – Lempengan batu dengan ketebalan asimetris 1-2 cm yang menciptakan efek tiga dimensi dramatis pada dinding.
- Lantai Outdoor Batu Alam Merapi – Solusi lantai tahan cuaca untuk teras, taman, dan area outdoor lainnya.
- Desain Eksterior Batu Lava – Inspirasi desain fasad bangunan dengan batu lava yang elegan dan tahan lama.
- Lantai Batu Lava Stone Floor – Lantai berbahan batu lava yang sejuk, anti-slip, dan tahan abrasi.
- Lantai Batu Candi Lahar Merapi – Lantai dengan karakteristik batu candi asli yang kokoh dan bersejarah.
- Lantai Batu Alam Permukaan Kasar – Tekstur kasar yang memberikan kesan rustic dan anti-slip alami.
- Lava Stone Batu Candi Hitam – Batu lava hitam pekat yang elegan untuk berbagai aplikasi.
- Decking Parquet Batu Lava Merapi – Ubin batu dengan pola parket yang meniru estetika kayu dengan ketahanan batu.
- Lempengan Batuan Alami – Material slab besar untuk meja, countertop, dan elemen arsitektur khusus.
- Ubin Batu Paras Palimanan – Batu paras krem elegan dengan berbagai pilihan finishing.
- Ubin Batu Alam Breksi – Batu breksi vulkanik dengan tekstur unik dan warna-warni alami.
- Batu Alam dan Furnitur – Perpaduan batu alam dengan furnitur untuk menciptakan harmoni ruang.
- Batu Lava Kolam Renang – Batu lava khusus area kolam yang anti-slip dan tahan terhadap bahan kimia.
- Permukaan Batu Lempengan Susun Sirih – Teknik susun sirih untuk dinding bertekstur artistik.
- Batu Susun Sirih Asli – Batu alami dengan pola susun yang menyerupai daun sirih.
- Ubin Batu Alam Hijau Sukabumi Asli – Batu hijau khas Sukabumi yang ikonik untuk kolam dan taman.
- Tepian Batu Alam – Elemen tepian untuk taman, kolam, dan hardscaping.
- Wastafel Batu Merapi Asli – Wastafel monolitik dari batu Merapi dengan ukuran 49x49x13 cm.
- Wastafel Batu Basalt Hitam – Wastafel elegan dari basalt hitam untuk kamar mandi premium.
- Batik Ubin Batu Hijau Yogyakarta – Ubin batu hijau dengan motif batik khas Yogyakarta.
- Batu Lava Hitam 100x100x10 – Lempengan batu lava hitam ukuran besar untuk paving dan dinding.
- Ubin Batu Lava Hitam – Ubin batu lava hitam berbagai ukuran untuk lantai dan dinding.

Kesimpulan
Candi Borobudur tersusun oleh batu yang sejenis yaitu andesit. Meskipun demikian, andesit penyusun Candi Borobudur memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga memiliki tingkat kerusakan dan pelapukannya yang berbeda.
Karakteristik batu penyusun Candi Borobudur antara lain:
- Batu candi yang berwarna gelap memiliki densitas lebih besar dibandingkan batu candi yang berwarna cerah, karena kandungan ferro magnesium-nya lebih tinggi. Selain itu batu candi yang berwarna gelap mampu menyerap panas lebih besar dibandingkan dengan batu candi yang berwarna cerah.
- Batu candi yang berwarna cerah memiliki kandungan silika lebih tinggi dan kandungan besi (Fe) lebih rendah daripada batu candi yang berwarna gelap.
- Batu candi yang ditumbuhi lumut memiliki densitas lebih kecil dan porositas lebih besar jika dibandingkan batu candi yang tidak ditumbuhi lumut.
- Kandungan silika pada batu candi yang ditumbuhi lumut lebih rendah jika dibandingkan dengan yang tidak ditumbuhi lumut. Hal ini karena proses pelapukan yang terjadi menyebabkan berkurangnya kadar silika pada batu.
- Kandungan kalium pada batu candi yang ditumbuhi lumut lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang tidak ditumbuhi lumut. Hal ini karena kalium merupakan unsur yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan lumut.
- Batu candi yang mengalami penggaraman memiliki densitas lebih kecil dan porositas lebih besar jika dibandingkan batu candi yang tidak mengalami penggaraman.
- Kandungan silika pada batu candi yang mengalami penggaraman lebih rendah jika dibandingkan dengan yang tidak mengalami penggaraman. Hal ini disebabkan oleh proses penggaraman yang salah satunya melarutkan silika dan kemudian mengendapkannya di permukaan batu.
Dengan karakteristik yang mencakup kekuatan, keunikan, dan nilai sejarah, Batu Candi Borobudur menjadi pilihan yang menarik untuk menghadirkan nuansa alami dan estetika klasik dalam desain interior modern maupun aplikasi eksterior. Material ini telah teruji ketahanannya selama lebih dari seribu tahun dan kini hadir dalam berbagai produk batu alam berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan arsitektur kontemporer.
🏷️ Tag
Batu Candi Borobudur, Andesit, Batu Vulkanik, Batu Lava, Batu Lava Hitam, Lantai Batu Alam, Pelapis Dinding Batu, Batu Gunung Merapi, Batu Candi, Karakteristik Batu, Sifat Andesit, Sifat Fisik Batu, Komposisi Kimia Batu, Mineralogi Batu, Batu Alam Indonesia, Batu untuk Arsitektur, Andesit Vulkanik, Densitas Batu, Porositas Batu, Kekerasan Batu, Pelapukan Batu, Lumut pada Batu, Endapan Garam Batu, Ketahanan Batu, Batu untuk Desain Modern, Batu Interior, Batu Eksterior, Ubin Batu, Lantai Batu, Batu Dinding,











